oleh

Pasca Gempa, Ribuan Warga Mejene Penuhi Tenda Pengungsian


Reportika.com|| Majene, Sulbar – Akibat Gempa berskala 5,9 yang terjadi hari Kamis tanggal 14 Januari 2021 pukul 14.34.49 detik wita dan gempa susulan dengan skala 6,2, terjadi hari Jumat, tanggal 15 Januari 2021 pukul 02.28 wita dinihari.

Gempa dirasakan cukup kuat di kabupaten Majene dengan durasi 5 -7 detik, membuat masyarakat di wilayah kabupaten Majene panik dan keluar rumah dan hingga sekarang ribuan masyarakat masih ditempat pengungsian untuk mengantisipasi gempa susulan.

Di kabupaten Polewali Mandar , gempa dirasakan cukup kuat dengan durasi 5-7 detik sehingga membuat masyarakat alami kepanikan dan lebih memilih keluar rumah untuk mengantisipasi gempa susulan, namun gempa ini tidak berpotensi Tsunami.

Khusus warga Kelurahan Tande Timur Kecamatan Banggae Timur Kabupaten Majene lebih memilih mengungsi ketempat dianggap aman tepatnya di kawasan pembangunan gedung baru Universitas Negeri Sulawesi Barat (Unsulbar) di puncak gunung daerah paraparang ratusan pengungsi secara marathon melakukan pengungsian dengan menempati kios dan sanggar pertemuan milik Unsulbar, dan para pengungsi bersama pengungsi lainnya tampaknya langsung menyatuh, bahkan lebih menarik lagi, ditengah kondisi dan situasi dipengungsian yang sedang diguyur hujan cukup deras dimalam hari Sabtu tampaknya pengungsi tidak ada rasa khawatir dan mereka seolah-olah masih berada dirumah masing- masing, tanpa beban yang awalnya mengalami depresi akibat adanya pernyataan dari BMKG bahwa Gempa susulan setelah gempa skala 6,2 di kabupaten Majene provinsi Sulbar, dan jika gempa susulan 6,2 Magnitudo berpusat di pantai, gempa tersebut berpotensi Tsunami,kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam konferensi Pers secara virtual Hari Jumat, tanggal 15 Januari 2021.

Tetapi para pengungsi langsung stressnya hilang ketika bertemu sesama ditempat pengungsian, apalagi dihibur musik dari salah satu rombongan pengungsi yang menempati sanggar milik Unsulbar.

“Awalnya kami sempat bingung setelah mendengar akan ada gempa susulan, khawatir dan takut juga, tapi setelah kami ada ditempat pengungsian ini, sedikit sedikit biasa agak tenang, soalnya kami bisa bertemu dengan keluarga, kerabat dan tetangga disini”, ujar salahsatu pengungsi.

Diketahui, Jurnalis Reportika.com, Andi Rasyid Moerdani bersama kekuarganya ikut mengungsi di parang- parang Kelurahan Tande Timur kecamatan Banggae Timur, apalagi keluarganya baru dua bulan dioperasi di RSUD Majene akibat lakalantas dan kakinya masih terikat dengan gifshu yang telah dipasang dokter ahli bedah dan tulang RSUD Majene sejak tanggal 10 Desember 2020 lalu karena patah tulang bagian betis sehingga menyulitkan bergerak dan harus diangkat dengan keadaan baring minimal empat orang.

(ANDIRA)

Komentar

News Feed