oleh

Bupati Polman Tutup TPA Amola Desember 2021

Reportika.com|| Polewali, Sulbar – Setelah mendapat reaksi dari masyarakat dengan membelokade akses masuk lokasi TPA Amola untuk melarang armada pengangkut sampah membongkar sampah di tempat pemprosesan akhir ( TPA) sampah karena dapat mengancam kedehatan bagi warga yang bermukim di sekitar kawasan TPA lantaran adanya pencemaran lingkungan limbah sampah, akibat bocornya kolam penyaringan limbah sampah tersebut.

Bupati Polewali Mandar, H.Andi Ibrahim Masdar, melalui Surat Pernyataannya Bernomor : P.13/ BUPATI/660/06/2021, tertanggal 08 Juni 2021,bermaterai 10.000, menyatakan bahwa Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) sampah di Amola desa Paku kecamatan Binuang akan ditutup pada bulan Desember 2021.Sehingga pemkab Polewali Mandar harus segera menentukan lokasi TPA.

Ada dua lokasi rencana pemkab untuk pembangunan TPA, yakni desa Laliko kecamatan Campalagian dan desa Tenggelang kecamatan Luyo.
Rencana pemkab Polewali Mandar merelokasi TPA dengan memilih dua wilayah itu, tampaknya mendapat reaksi masyarakat untuk melakukan penolakan kehadiran TPA di kedua wilayah tersebut.

Seperti disampaikan salah seorang pemuda di. Desa Laliko, Aco Aswad dengan tegas menyatakan menolak kebijakan pemka Polman menunjuk desa Laliko sebagai lokasi pemindahan TPA Amola desa Paku kecamatan Binuang.
Alasan Aco Aswad menolak kehadiran TPA karena dirinya tidak mau melihat adanya masyarakat terancam kesehatan akibat limbah sampah pencemaran lingkungan.

Aco Aswad menyapaikan ketika dirinya masih menempuh pendidikan di Makassar, setiap hari dirinya menyaksikan adanya warga mengalami keresahan dan kesehatannya terancam akibat bau busuk dari limbah sampah yang tidak terkelola dengan baik di TPA Antang itu kota Makassar, sehingga dirinya bersama pemuda lainnya msupun masyarakat di desa Laliko secara tegas menolak kebijakan pemkab Pada untul memindahkan TPA Amola ke Laliko.

Senada dengan salah seorang anggota BPD desa Tenggelang, Basri Bas, dengan tegas menolak kehadiran TPA yang sebelumnya di Amola desa Paku kecamatan Binuang itu karena berpotensi terjadinya pencemaran lingkungan akibat limbah sampah yang tidak dikelola dengan baik.

Alasannya, lanjut Basri Bas, dirinya tidak mau melihat ada warga di desa Tenggelang terkena dampak pencemaran limbah sampah dan terancam kesehatannya.

Seperti dirinya, ketika masih menempuh pendidikan, hampir setiap hari menyaksikan adanya warga di Antang kota Makassar kesehatannya terancam akibat limbah sampah yang tidak terkelola dengan baik.

(ANDIRA)

Komentar

News Feed